Apabila sebelumnya keberhasilan kerap diukur dari kelancaran arus lalu lintas secara sesaat, kini parameter itu diperluas dengan menitikberatkan pada perubahan perilaku kolektif masyarakat. Dengan pendekatan humanis, petugas di lapangan diharapkan mampu menghadirkan pengalaman positif yang memperkuat kepercayaan publik.
“Ketika petugas hadir dengan sikap profesional dan menghargai melalui program Polantas Menyapa dan Melayani, masyarakat memperoleh pengalaman yang memperkuat trust. Pengalaman harian itulah yang menjadi fondasi budaya keselamatan yang kuat dan alami,” jelasnya.
Kepercayaan Publik Jadi Kunci Inovasi Teknologi
Irjen Agus turut menekankan hubungan antara aspek sosial dan penerapan teknologi. Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti sistem ETLE tidak akan optimal tanpa kesiapan sosial serta dukungan masyarakat.
Masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap institusi dinilai lebih mudah menerima pembaruan maupun kebijakan baru. Karena itu, pendekatan humanis yang diterapkan saat ini dianggap sebagai investasi jangka panjang dalam transformasi berbasis teknologi.













