BUDAYA  

Midang: Tradisi Lebaran Kayuagung yang Bikin Rindu Masyarakat Perantau Pulang Kampung

OKI, Sumsel9.com – Di Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Lebaran tak hanya tentang ketupat dan opor ayam, atau sekadar berkumpul di ruang tamu. Ada satu momen yang selalu dinanti ketika rindu kampung halaman terobati lewat arak-arakan panjang yang disebut Midang.

Midang merupakan tradisi arak-arakan khas masyarakat Kayuagung yang dilakukan dengan berjalan kaki sambil mengenakan busana adat dan diiringi musik tradisional. Bagi pendatang, Midang mungkin terlihat seperti karnaval. Namun bagi masyarakat setempat, tradisi ini adalah cara untuk saling menyapa, mempererat hubungan, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun.

Setiap tahun, tepat pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri, Midang kembali digelar. Sebelas kelurahan ikut ambil bagian, menjadikan jalanan kota seperti panggung terbuka ramai, berwarna, dan dipenuhi langkah yang seirama.

Di sepanjang arak-arakan, para muda-mudi tampil dalam balutan busana adat kebesaran Kayuagung: Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin. Kain songket yang berkilau, selendang yang menjuntai, hingga hiasan kepala yang sarat makna menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Kayuagung.

Arak-arakan dimulai dari pembawa tanda kelurahan dan bendera merah putih, disusul anak-anak, lalu para bujang dan gadis, hingga iringan musik tanjidor yang menghidupkan suasana.

Secara umum, Midang terbagi menjadi dua bentuk: Midang Begorok yang hadir dalam hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta Midang Bebuke yang digelar saat Lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian penting dari rangkaian perkawinan mabang handak, yakni tahap ketika kesepakatan menuju pernikahan telah dicapai. Pada momen ini, calon pengantin diarak bersama bujang dan gadis dari kedua keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Ini menjadi penegasan bahwa keduanya telah berada dalam ikatan yang dijaga oleh adat dan diakui secara sosial.

Baca Juga :  Tari Piring khas Minang Meriahkan Pesta Pernikahan Zelly dan Rangga