Menurutnya, pengalaman pada Pilkada sebelumnya menunjukkan bahwa potensi konflik antarpendukung, penyebaran hoaks, dan gangguan keamanan lainnya sering kali muncul pada fase ini.
“Pengamanan tidak hanya akan dilakukan di dunia nyata, tetapi juga secara intensif di dunia maya. Kami juga berkoordinasi erat dengan berbagai instansi terkait untuk memastikan situasi tetap terkendali,” ujarnya.
Selain patroli dan pengawasan, Polri juga melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi kemasyarakatan. Pendekatan kolaboratif ini bertujuan untuk membangun dukungan luas dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama Pilkada.
Polri juga meningkatkan kualitas personel melalui pelatihan intensif dan simulasi situasi darurat.
“Kami pastikan setiap personel siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengamanan pemungutan suara hingga penanganan konflik sosial,” jelas Trunoyudo.