banner"970x150"title"970x150" banner"970x150"title"970x150"
BISNIS  

Kopi Liberika, Tanaman Andal yang Cocok di Lahan Gambut, Ketua Forjubes : Lahan Gambut Kabupaten OKI Cocok !

banner"400x100"title"400x100"

“Liberika cocok sekali di gambut. Tidak rewel, tahan juga kalau kering. Yang penting dirawat, dibersihkan, dan dirangsang pembuahannya. Usia 1,5 tahun sudah mulai berbuah,” ujar Heriyadi menjelaskan.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa sistem tumpang sari—menanam kopi liberika bersamaan dengan pinang—telah terbukti meningkatkan pendapatan petani di Jambi. Kedua tanaman ini sama-sama cocok di lahan gambut dan memiliki pasar yang kuat. Pinang memiliki nilai ekspor tinggi, sementara liberika juga tengah mengalami peningkatan permintaan dari industri kopi nasional maupun internasional. “Kombinasi kopi liberika dan pinang ini sangat menguntungkan. Pinang untuk ekspor, kopi untuk pasar lokal dan luar daerah. Dua-duanya bernilai ekonomi tinggi,” ucapnya.

Juanda, seorang penggiat kopi di Provinsi Jambi, menguatkan pendapat Heriyadi. Menurutnya, berkebun kopi liberika saat ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan, terutama karena tingginya minat pasar terhadap kopi unik dari daerah gambut. Harga buah kopi liberika dalam bentuk cherry bisa mencapai Rp 12.000 per kilogram. Nilai tersebut akan melonjak berkali-kali lipat jika diolah menjadi green bean atau bubuk, bahkan bisa menyentuh ratusan ribu rupiah per kilogram untuk kualitas premium.

“Liberika ini pasarnya spesifik dan sedang naik daun. Banyak roastery cari rasa yang beda. Kopi gambut itu punya karakter tersendiri, dan itu dicari,” jelas Juanda.

Ia juga menegaskan bahwa liberika memiliki banyak keunggulan dibanding jenis kopi lain ketika ditanam di lahan gambut. Selain tahan terhadap kondisi ekstrem, liberika juga bisa dipanen sepanjang tahun. Hal tersebut menjadikan tanaman ini sebagai komoditas yang dapat memberikan pemasukan rutin bagi petani.

Baca Juga :  UPT SMA Negeri 13 Mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan