Menurut Tri, keberhasilan uji coba penyediaan air minum isi ulang di kawasan Candrabaga mendorong Pemkot Bekasi memperluas inovasi tersebut ke ruang publik. Langkah ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat.
“Lanjutannya adalah bagaimana mengubah mindset warga masyarakat untuk kemudian menggunakan air minum isi ulang,” katanya.
Berbeda dengan fasilitas air minum gratis, program ini menerapkan sistem berbayar dengan tarif sangat terjangkau.
Tri menegaskan, kebijakan tersebut bukan bertujuan mencari keuntungan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dalam menghargai air serta menjaga keberlangsungan operasional mesin.
“Kalau butuh satu liter, bayarnya 100 perak. Kalau butuh 1,8 liter, cukup 500 perak. Ini bukan untuk mencari keuntungan, tapi agar operasional tetap berjalan karena mesinnya juga harus dipelihara,” jelasnya.













