Dari sisi daya beli, sinyal positif datang dari laporan World Travel & Tourism Council
(WTTC) yang menyebutkan bahwa international visitor spending di Indonesia pada 2025
berada on track mencetak rekor sekitar 344 triliun rupiah. Pemulihan belanja wisatawan
asing ini menjadi bahan bakar penting bagi hotel-hotel dengan produk premium, karena
segmen ini relatif lebih mudah mendorong Average Daily Rate (ADR) dibanding hanya
mengejar volume okupansi.
Secara global, pariwisata juga telah melampaui level pra-pandemi. UN Tourism
melaporkan bahwa jumlah kedatangan wisatawan internasional secara global pada paruh
pertama 2025 sudah berada di atas angka sebelum pandemi.
Hal ini menjadi tailwind
bagi tahun 2026, karena Indonesia tidak berdiri sendiri ketika arus wisata dunia bergerak
positif, destinasi yang memiliki story, aksesibilitas, dan value proposition yang kuat
cenderung ikut menikmati dampaknya.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pariwisata menargetkan pasar-pasar prioritas untuk
periode 2025–2026 dengan pendekatan experience-based tourism serta peningkatan.
standar ekosistem pariwisata. Fokus ini mendorong permintaan yang lebih
tersegmentasi, berkualitas, dan cenderung “worth paying” bagi wisatawan.
Dengan kondisi tersebut, segmen villa, resort, boutique, dan luxury hotel memiliki peluang luar biasa di tahun 2026. Keberhasilan segmen premium ini ditentukan oleh tiga
faktor kunci. Pertama, product–market fit premium, yang mencakup desain properti yang kuat, room feel berkarakter, privasi dan keheningan, kualitas aroma dan tidur, hingga penerapan konsep restorative rooms yang benar-benar optimal.













